jump to navigation

Penerjemah yang Baik Tidak Harus Lulusan Bahasa January 5, 2013

Posted by mazdink in Artikel.
Tags: , ,
trackback

Untuk bisa menerjemahkan dengan baik, kedwibahasaan (bilingualism) belumlah cukup bahkan jika seseorang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan dwibahasa. Masih ada hal lain yang diperlukan untuk menjadi seorang penerjemah. Pertama, penerjemah memerlukan keterampilan dan pengalaman yang dibutuhkan untuk menerjemahkan. Ini mencakup kemampuan menulis dengan baik dalam bahasa target dan kemampun untuk membaca dan memahami bahasa sumber secara menyeluruh. Kedua, penerjemah memerlukan pengetahuan yang baik tentang bidang yang akan diterjemahkan.

Kedua hal ini bisa diperoleh dengan mempelajarinya secara formal maupun mendapatkannya secara otodidak. Mempelajarinya secara formal di bangku sekolah bersama dengan keterampilan dan kompetensi bahasa yang lain bisa memberikan peluang yagn lebih besar untuk mendapatkan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk penerjemahan. Sementara yang mempelajarinya secara otodidak akan menemui banyak keterbatasan, khususnya dalam mempelajari dan mendapatkan keterampilan dan pengetahuan ini secara terstruktur dan menyeluruh. Jadi, cukup beralasan memang jika penerjemah yang merupakan lulusan bahasa “berpotensi” memiliki keterampilan dan pengetahuan yang lebih komprehensif, sehingga juga hasil terjemahan yang lebih berkualitas dan berterima, dibanding penerjemah otodidak.

Pada kenyataannya, ada penerjemah otodidak, yang tidak pernah belajar penerjemahan atau bahasa target secara formal, bisa menghasilkan karya terjemahan yang lebih berterima dibanding yang dihasilkan penerjemah lulusan bahasa. Contohnya dalam penerjemahan buku “The Bugis” karangan Christian Pelras. Pada awalnya, versi terjemahan buku ini digarap oleh dua penerjemah lulusan jurusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin. Akan tetapi, hasil terjemahan mereka dianggap kurang berterima oleh penerbit dan penulis asli buku tersebut. Akhirnya, atas rekomendasi dari seseorang di penerbitan tersebut, buku diterjemahkan kembali oleh seorang penerjemah otodidak yang bukan lulusan bahasa Inggris. Versi terjemahan buku ini kemudian diterbitkan  dengan judul “Manusia Bugis” dengan tetap mencantumkan nama dua penerjemah awal disamping nama penerjemah otodidak tersebut.

buku-terjemahan-the-bugis-manusia-bugis

Buku Terjemahan “the Bugis” ke dalam Bahasa Indonesia “Manusia Bugis”

Penerjemah yang baik memang tidak harus lulusan Bahasa, melainkan seorang penerjemah, seperti yang disebutkan Vinay and Darbelnet, “must know all the nuances of the foreign language and have a full command of all the resources of their first language. They must be utterly familiar with the grammar and the vocabulary“.

(Dukung saya di lomba blog Iconia PC Tablet dengan Windows 8)

Comments»

1. gemilang Ugi - February 27, 2014

Majuki teruuss…semogaki sukses di..

BTW. Bagaimana “mempercantik”..blog seperti ini..Daeng..

http://pelatihanbersama.wordpress.com

2. CAHYOGYA.com - June 8, 2014

saya sependapat dengan Agan, teman saya walaupun bukan dari lulusan bahasa tapi lancar dalam menerjemahkan berbagai bahasa.. tinggal kemauan saja..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: