jump to navigation

Contoh Terjemahan

Ini merupakan contoh hasil terjemahan saya dalam beberapa bidang untuk menjadi salah satu bahan pertimbangan anda sebelum mempercayakan order terjemahan kepada saya.

KEDOKTERAN
Source Target
Anemias are generally classified in one of two ways: either by etiological classification (based on the cause) or by morphologic classification (based on changes in shape and size). Etiological classification is more commonly employed.Alloimmune hemolytic anemia occurs when the antibody of one individual reacts with red blood cells (RBC) of another. Alloimmune hemolytic anemia typically occurs following transfusion of ABO incompatible blood and rhesus disease of the newborn. It also can occur following allogenic transplantation.

The administration of certain drugs can cause transient drug induced anemia. This can occur by three mechanisms: 1) antibody directed against a drug-red cell membrane complex (e.g., penicillin or cephalothin); 2) deposition of complement via drug-protein (antigen)-antibody complex onto the red cell surface (e.g., quinidine or chloropropamide); or 3) an autoimmune hemolytic anemia in which the role of the drug is unknown (e.g., methyl dopa). In each case, the anemia disappears only after the drug is discontinued (however, with methyl dopa, the antibodies may persist for many months).

Anemia umumnya digolongkan menurut salah satu dari dua sistem klasifikasi yakni dengan klasifikasi etiologi (berdasarkan penyebab) atau dengan klasifikasi morfologi (berdasarkan bentuk dan tingkat keparahan). Klasifikasi etiologi lebih umum dipakai.Anemia hemolitik aloimun terjadi apabila antibodi dari seseorang bereaksi dengan sel darah merah orang lain. Anemia hemolitik aloimun lazimnya terjadi setelah transfusi darah ABO tidak serasi dan penyakit resus neonatus. Jenis anemia ini juga bisa terjadi setelah transplantasi alogenik.

Pemberian obat tertentu bisa menyebabkan anemia imbas obat sesaat. Ini bisa terjadi melalui tiga mekanisme: 1) antibodi yang diarahkan untuk kompleks obat-membran sel darah merah (misalnya penisilin atau sefalotin); 2) endapan komplemen pada permukaan sel darah merah melalui kompleks antibodi-(antigen) protein obat (misalnya quinidin atau kloropropamida); atau 3) anemia hemolitik autoimun dimana peranan obat tidak diketahui (seperti metil dopa). Pada masing-masing mekanisme ini, anemia hanya hilang setelah pemakaian obat dihentikan (akan tetapi, dengan metil dopa, antibodi-antibodi yang terlibat bisa bertahan selama beberapa bulan).

KEDOKTERAN GIGI
A 21-year-old female patient presented with a complaint of an asymptomatic gingival swelling. The lesion was located in the alveolar ridge in the mandibular right third molar region. The patient reported the evolution of a lesion over a period of one month. The swelling started following extraction of the right mandibular third molar along with frequent bleeding, especially after meals, but with partial spontaneous healing. Extraorally, the patient presented facial swelling on the right side (Figure 1). Intraorally, a normal and elastic mucosa was observed along with a nodule reaching 4 cm in the largest diameter with a rubber-like consistency extending from the second bicuspid to the retromolar region (Figure 2). Seorang pasien wanita berusia 21 tahun memiliki keluhan pembengkakan gingiva asimptomatik. Lesi terdapat pada rabung alveolar (alveolar ridge) di daerah geraham bungsu kanan mandibula. Pasien melaporkan terjadinya lesi selama periode satu bulan. Pembengkakan ini mulai terjadi setelah pencabutan geraham bungsu bawah diikuti dengan perdarahan yang sering terjadi, khususnya setelah makan, tapi dengan penyembuhan spontan parsial. Pada pemeriksaan ekstraoral, pasien memiliki pembengkakan wajah pada sisi kanan (Gambar 1). Pada pemeriksaan intraoral, sebuah mukosa yang elastis dan normal ditemukan bersama dengan sebuah nodul yang diameternya mencapai 4 cm dengan konsistensi mirip-karet dan membentang mulai dari gigi bikuspid sampai daerah retromolar (Gambar 2).
KIMIA

The hydrocarbons become harder to ignite as the molecules get bigger. This is because the bigger molecules don’t vaporise so easily – the reaction is much better if the oxygen and the hydrocarbon are well mixed as gases. If the liquid isn’t very volatile, only those molecules on the surface can react with the oxygen. Bigger molecules have greater Van der Waals attractions which makes it more difficult for them to break away from their neighbors and turn to a gas. Provided the combustion is complete, all the hydrocarbons will burn with a blue flame. However, combustion tends to be less complete as the number of carbon atoms in the molecules rises. That means that the bigger the hydrocarbon, the more likely you are to get a yellow, smoky flame.

Incomplete combustion (where there isn’t enough oxygen present) can lead to the formation of carbon or carbon monoxide. As a simple way of thinking about it, the hydrogen in the hydrocarbon gets the first chance at the oxygen, and the carbon gets whatever is left over! The presence of glowing carbon particles in a flame turns it yellow, and black carbon is often visible in the smoke. Carbon monoxide is produced as a colorless poisonous gas.

Senyawa hidrokarbon menjadi lebih sulit terbakar apabila molekul-molekulnya semakin besar. Ini karena molekul-molekul yang lebih besar tidak mudah menguap – reaksi akan jauh lebih baik jika oksigen dan hidrokarbon bercampur sebagai gas. Jika senyawa hidrokarbon dalam wujud cair tidak mudah menguap, maka hanya molekul-molekul pada permukaan saja yang bisa bereaksi dengan oksigen. Molekul-molekul yang lebih besar memiliki gaya tarik Van der Waals yang lebih besar sehingga membuatnya lebih sulit untuk terputus dari molekul tetangga dan sulit untuk membentuk gas. Jika pembakaran berlangsung sempurna, semua hidrokarbon akan terbakar dengan nyala biru. Akan tetapi, pembakaran cenderung kurang sempurna apabila jumlah atom karbon dalam molekul meningkat. Ini berarti bahwa semakin besar senyawa hidrokarbon, semakin besar kemungkinan diperoleh nyala kuning yang berasap.

Pembakaran tidak sempurna (yakni jika tidak terdapat cukup oksigen) bisa menyebabkan pembentukan karbon atau karbon monoksida. Penjelasan sederhana untuk reaksi pembakaran ini adalah, hidrogen dalam hidrokarbon mendapatkan kesempatan pertama untuk bereaksi dengan oksigen, dan karbon hanya mendapatkan oksigen yang tersisa. Keberadaan partikel-partikel karbon yang berpijar pada sebuah nyala menyebabkan nyala tersebut berubah menjadi warna kuning, dan karbon hitam sering terlihat dalam asap. Karbon monoksida dihasilkan sebagai sebuah gas beracun yang tidak berwarna.

KESEHATAN
It has long been known that malnutrition undermines economic growth and perpetuates poverty. Yet the international community and most governments in developing countries have failed to tackle malnutrition over the past decades, even though well-tested approaches for doing so exist. The consequences of this failure to act are now evident in the world’s inadequate progress toward the Millennium Development Goals (MDGs) and toward poverty reduction more generally. Persistent malnutrition is contributing not only to widespread failure to meet the first MDG “to halve poverty and hunger” but to meet other goals in maternal and child health, HIV/AIDS, education, and gender equity. The unequivocal choice now is between continuing to fail, as the global community did with HIV/AIDS for more than a decade, or to finally make nutrition central to development so that a wide range of economic and social improvements that depend on nutrition can be realized. Telah lama diketahui bahwa malnutrisi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan melanggengkan kemiskinan. Meski demikian, komunitas internasional dan kebanyakan pemerintah di negara-negara berkembang telah gagal dalam mengatasi masalah malnutrisi selama beberapa puluh tahun terakhir, walaupun tersedia pendekatan-pendekatan yang telah teruji untuk masalah tersebut. Konsekuensi dari kegagalan untuk bertindak ini sekarang terbukti dengan adanya perkembangan dunia yang tidak memadai menuju Sasaran Pembagunan Milenium (MDG) dan menuju ke pengurangan kemiskian pada umumnya. Malnutrisi yang terus menerus terjadi memberikan kontribusi tidak hanya bagi meluasnya kegagalan dalam memenuhi MDG tetapi juga kegagalan dalam memenuhi tujuan-tujuan lain dalam kesehatan ibu dan anak, HIV/AIDS, pendidikan, atau kesamaan jender. Pilihan yang mau tidak mau dihadapi sekarang ini adalah apakah tetap melanjutkan kegagalan, atau menjadikan gizi sebagai sentral bagi pembangunan sehingga pelbagai peningkatan ekonomi dan sosial yang bergantung pada gizi bisa direalisasikan.
EKONOMI

Traditional costing procedures often group indirect, support costs in one pool and then allocate them to products and services based on related production figures. But when economies of scale come into play, this approach tends to attribute too high a cost to high-volume products and services and too low a cost to low-volume ones (Chan 1993).4 ABC more logically attributes indirect costs to the product or service that actually consumes these costs (Cokins 1996).

This approach, states Brimson (1991), enables an organization to “use its resources in the best possible way to achieve its objectives” by also providing insights into the production process for delivering products and services.

Prosedur pembiayaan tradisional seringkali mengelompokkan biaya-biaya dukungan yang tidak langsung dalam satu kelompok dan selanjutnya mengalokasikan biaya tersebut ke produk-produk dan jasa berdasarkan jumlah produksi yang terkait. Tetapi ketika ekonomi skala terlibat, pendekatan ini cenderung mengalokasikan biaya yang terlalu tinggi untuk produk dan jasa bervolume tinggi dan mengalokasikan biaya yang terlalu rendah untuk produk dan jasa yang bervolume rendah (Chan 1993). ABC secara lebih logis mengaitkan biaya-biaya tidak langsung dengan produk atau jasa yang benar-benar memaki biaya-biaya ini (Cokins 1996).

Pendekatan ini, menurut Brimson (1991), memungkinkan sebuah organisasi untuk “menggunakan sumber dayanya dengan cara yang sebaik mungkin dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya” dengan juga menyediakan pengetahuan tentang proses produksi untuk menyalurkan produk dan jasa.

Comments»

1. dyand - October 4, 2009

over jet

2. barul - November 2, 2009

apa perbedaan hiv dengsn aids

3. ASIH DEWAYANTI - March 25, 2010

SIP !! Aku pasti butuh yang begini. See you, next !

4. yenny - January 21, 2011

can you put in the slide about kings story……

5. Laura Chandra - April 6, 2013

this helps my thesis about translation, thanks!

6. abc - March 6, 2014

One day when a rabbit was walking in the forest, he heard someone crying out, “Help! Help !” He looked around, and finally he saw a wolf. A great stone had fallen on his back so that he could not get up. He asked the rabbit’s help, and said that he would die if nobody helped him.

7. abc - March 6, 2014

One day when a rabbit was walking in the forest,

8. Dini erha - March 15, 2014

oya mas..kalo boleh saran. untuk istilah kedokteran..biarkan saja in english karena sebagai profesional, kita sudah mengerti maksudnya apa, seperti yg ini ni..”Alloimmune hemolytic anemia” biarkan saja seperti itu, malah aneh kalo diterjemahin mas, jadi nggak ngerti. yg butuh jasa translet kedokteran kan yaa juga orang medis kebanyakan.

contohnya..”rebung alveolar” [di translet kedokteran gigi] cukup alveolar ridge saja..dan sebenarnya kalau diterjemahkan ke indonesia juga bukan ‘rebung alveolar’..tapi ‘lingir alveolar’.

untuk istilah ‘gigi geraham’ tulis saja ‘molar’ tanpa diterjemahkan. molar satu, molar dua, molar tiga..premolar/bikuspid, kaninus, insisivus.

dan ‘mukosa’ itu nggak pake ‘sebuah’ hehe..

kebetulan saya anak gigi, kalimatnya agak mengganggu sy

just to help you improve sir..sama-sama belajar kita..
regards,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: