jump to navigation

Penerjemah, Profesi Terpinggirkan September 13, 2009

Posted by mazdink in Artikel.
Tags:
trackback

faceMungkin bagi sebagian orang istilah “Penerjemah” masih terasa asing terdengar di telinga atau bahkan mungkin sebagian lainnya belum mengenal atau tidak pernah tahu bahwa ada profesi yang disebut “Penerjemah”. Yah, begitulah keadaan masyarakat secara umum dalam kaitannya dengan profesi penerjemah ini, bahkan terkadang penerjemah tidak diakui sebagai sebuah profesi. Terlepas dari semua itu, kehidupan kita mulai dari kecil hingga sekarang tidak terlepas dari yang namanya penerjemah. Mulai dari bangku SD, SMP, SMA, kuliah dan seterusnya, kita secara tidak sadar telah berinteraksi langsung dengan penerjemah. Cobalah kita tengok buku-buku yang kita miliki, baik itu buku pelajaran, majalah, novel, pendidikan dan lainnya. Setidak-tidaknya dalam kandungan buku-buku itu ada unsur penerjemah atau buku itu sendiri bisa jadi adalah sebuah karya yang telah dihadirkan ke hadapan anda lewat perantara penerjemah.

Contoh sederhana adalah kitab suci kita masing-masing. Al-Qur’an misalnya yang berbahasa Arab mustahil bagi orang-orang yang buta bahasa Arab untuk bisa mempelajari dan menerapkan kandungannya dalam kehidupan tanpa melalui proses penerjemahan ke bahasa Indonesia. Kitab suci kita pahami dan amalkan lewat pemahaman melalui terjemahannya baik yang kita baca secara langsung maupun yang disampaikan oleh para penceramah. Kalau anda termasuk orang yang suka membaca novel, tentu anda sangat tahu dan kenal dengan novel-novel terkenal di negeri ini, katakanlah misalnya Harry Potter dan lainnya. Novel Harry Potter tidak akan dapat dinikmati jutaan penggemar novel di Indonesia tanpa melalui proses penerjemahan. Bahkan berita-berita internasional terkini, yang dinikmati jutaan orang di negeri ini, yang disajikan di situs induk kita misalnya (detik.com) tidak terlepas dari proses penerjemahan.

Detik pernah memuat berita yang bertajuk seperti ini “Salah Terjemah di Jumpa Pers SBY – Kevin Rudd Gara-gara Dino Sakit”, mungkin ada rekan yang sudah membacanya. Coba anda bayangkan betapa pentingnya posisi penerjemah pada kondisi seperti di berita itu, kesalahan penerjemah akan membawa dampak yang sangat besar bahkan kesalahan pengertian yang bisa berujung pada konflik kedua negara.

Penerjemah yang bergerak di bidang lain pun demikian, katakanlah penerjemah kedokteran. Kesalahan sekecil apapun dalam penerjemahan bidang kedokteran tidak bisa ditolerir. Bayangkan saja kalau seorang penerjemah menerjemahkan masalah prosedur bedah dan membuat kekeliruan sedikit saja, maka nyawa pasien yang akan jadi taruhannya. Misalnya saja ada kalimat yang seharusnya diterjemahkan “disuntik 2 hari sekali” tapi diterjemahkan “disuntik 2 kali sehari” lalu perawat atau dokter berpatokan pada hasil terjemahan itu, maka bagaimana? Kasihan kan pasiennya, bahkan nyawanya bisa melayang. Begitu juga dengan penerjemah-penerjemah lainnya seperti penerjemah dokumen hukum, surat perjanjian, dan sebagainya.

Masih banyak sih contoh-contoh lain yang bisa ditemukan tentang betapa pentingnya keberadaan seorang penerjemah, rekan-rekan tentu bisa dengan mudah menemukannya. Bahwa profesi penerjemah itu adalah profesi yang terpinggirkan, profesi tidak dikenal oleh masyarakat, atau bahkan banyak yang menjadikannya sebagai profesi sampingan, mungkin itu di negara kita. Tapi coba kita tengok ke negara-negara maju seperti Jepang misalnya. Kemajuan yang dicapai Jepang sampai saat ini sangat erat kaitannya dengan kebiasaan mereka menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari Barat, sehingga dapat dikonsumsi oleh seluruh warga negaranya bukan hanya orang-orang yang bisa berbahasa Asing. Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Tentu ini juga didukung oleh minat baca yang tinggi dari masyarakatnya.

Itulah penerjemah, sebuah profesi penting yang belum banyak diakui keberadaannya. Masih sebagian kecil yang menggeluti profesi ini sebagai profesi utama, kebanyakan melakoninya sebagai profesi sampingan. Saya sendiri melakoni profesi ini bukan sebagai profesi sampingan tetapi sebagai profesi utama.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: