jump to navigation

Penerjemah dan Sindrom Carpal Tunnel September 13, 2009

Posted by mazdink in Artikel.
Tags:
add a comment
Face

Apakah anda rutin dan intensif menggunakan komputer? Pernahkah anda merasakan sakit pada pergelangan tangan dan berkurangnya kekuatan saat menggenggam benda? Atau anda merasakan mati rasa pada tangan yang dominan? Jika ya, berhati-hatilah karena anda kemungkinan anda telah terkena Sindrom Carpal Tunnel. Beberapa waktu yang lalu saya merasakan sakit pada pergelangan tangan kanan (tangan dominan) dan peletihan otot dimana saya tidak mampu menggenggam sebuah benda dengan kekuatan penuh bahkan untuk memotong kuku dengan alat saya tidak bisa melakukannya. Awalnya saya pikir ini hanya gejala biasa yang akan sembuh dengan sendirinya. (more…)

Keakuratan Google Translate English-Bahasa Indonesia September 13, 2009

Posted by mazdink in Artikel.
Tags:
3 comments

facePengalihbahasaan (penerjemahan) dewasa ini tidak hanya dapat dilakukan oleh manusia tetapi juga oleh mesin-mesin penerjemah. Diawali dengan lahirnya perangkat lunak kamus dengan kemampuan terjemahan yang terbatas pada kata dan frase, kini telah bermunculan mesin-mesin penerjemah yang mengklaim tidak hanya dapat menerjemahkan frase, kalimat dan paragraf tetapi bahkan naskah lengkap dan buku. Salah satu yang mendapatkan banyak perhatian adalah layanan penerjemahan online gratis berbagai bahasa Google Translate yang juga mendukung terjemahan Bahasa Indonesia. Tetapi sejauh mana keakuratan hasil terjemahan Google Translate? Apakah Google Translate layak digunakan untuk menerjemahkan dokumen-dokumen penting dan naskah-naskah ilmiah? Mari kita lihat! (more…)

Penerjemah, Profesi Terpinggirkan September 13, 2009

Posted by mazdink in Artikel.
Tags:
add a comment

faceMungkin bagi sebagian orang istilah “Penerjemah” masih terasa asing terdengar di telinga atau bahkan mungkin sebagian lainnya belum mengenal atau tidak pernah tahu bahwa ada profesi yang disebut “Penerjemah”. Yah, begitulah keadaan masyarakat secara umum dalam kaitannya dengan profesi penerjemah ini, bahkan terkadang penerjemah tidak diakui sebagai sebuah profesi. Terlepas dari semua itu, kehidupan kita mulai dari kecil hingga sekarang tidak terlepas dari yang namanya penerjemah. Mulai dari bangku SD, SMP, SMA, kuliah dan seterusnya, kita secara tidak sadar telah berinteraksi langsung dengan penerjemah. (more…)

Bidang Spesialisasi Penerjemah Online January 30, 2009

Posted by mazdink in Penerjemahan.
Tags: , ,
3 comments

Bidang Keahlian

  • Kimia, Biologi Farmasi
  • Kesehatan
  • Kedokteran
  • Kedokteran Gigi
  • Pertanian
  • Perikanan
  • Kehutanan
  • Kelautan
  • Lingkungan
  • Industri dan IT

Bidang Kemampuan

  • Ekonomi
  • Bidang lainnya (Non-Fiksi)

Klien Penerjemah Online January 30, 2009

Posted by mazdink in Penerjemahan.
Tags: ,
2 comments
  • PT. Wiraguna Tani, Jakarta
  • NISSAN Group, Japan
  • YAMAHA, Japan
  • PANASONIC, Japan
  • PT. Bumi Sarana Utama, Makassar
  • LSM JICA Makassar
  • Situs Kimia Indonesia, www.chem-is-try.org
  • International Moslem Brotherhood, Jakarta
  • Mahasiswa S1, S2 dan S3 dari berbagai Universitas di Indonesia

Tarif Penerjemah Online January 30, 2009

Posted by mazdink in Penerjemahan.
Tags: ,
8 comments

Seperti halnya dengan semua industri jasa lainnya, tarif dalam penerjemahan menempati posisi penting. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada kekuatan hukum yang mengikat penentuan tarif terjemahan sehingga tarif yang ada sangat bervariasi, tergantung pada si penerjemah dan klien mereka. Meski demikian, Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) telah memberikan tarif acuan untuk terjemahan English – Indonesia senilai Rp. 50.000 per 1.500 karakter

(termasuk titik, koma dan spasi) halaman jadi. Sebagian penerjemah masih merasa berat mengadopsi tarif ini karena pertimbangan klien, dan sebagian lainnya telah mengadopsi tarif ini bahkan tidak kurang yang memasang tarif lebih.

Untuk internasional, tarif yang biasanya dijadikan standar adalah USD 0,05 per kata teks sumber, atau jika disepadankan dengan tarif acuan HPI nilainya sekitar Rp. 90.000an per lembar halaman jadi. Terlepas dari tarif-tarif acuan ini, hal yang sebenarnya mendasari penentuan tarif ini adalah klien. Sehingga sangat wajar jika seorang penerjemah melakukan diskriminasi tarif berdasarkan tipe klien mereka. Dengan pertimbangan ini pula saya menetapkan tarif terjemahan dalam beberapa kategori klien:

Tipe Klien English -> Indonesia
(per lembar / 200 kata teks target)
Indonesia -> English
(per lembar / 200 kata teks target)
Personal dan Mahasiswa Rp. 7.000 Rp. 15.000
Instansi dan Organisasi Rp. 15.000 Rp. 30.000
Internasional Rp. 25.000 Rp. 50.000

METODE PEMBAYARAN

Pembayaran Panjar

Mengapa membayar panjar? Dalam penerjemahan yang diperdagangkan adalah jasa bukan barang, dan memerlukan waktu untuk menyelesaikan pesanan klien. Bisa anda bayangkan bagaiman seandainya jika sebuah order telah dikerjakan dan diselesaikan dengan sepenuh tenaga dan pikiran tetapi ternyata klien membatalkan order tersebut, yang lebih parahnya lagi, tanpa ada pemberitahuan kepada si penerjemah. Olehnya itu dalam penerjemahan diberlakukan sistem panjar untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi, pembayaran panjar bisa menimbulkan konotasi lain bagi klien yang sama dengan kekhawatiran penerjemah.

Untuk menetralkan anggapan-anggapan ini, panjar yang harus dibayar muka oleh klien cukup 30% dari harga total (sesuai jumlah halaman jadi yang diestimasi), ini khusus bagi klien baru. Adapun klien lama, yang telah beberapa kali mengajukan order/project, maka pembayaran panjar bukanlah suatu keharusan.

Pelunasan

Pelunasan atau pembayaran total biaya terjemahan dilakukan setelah order/project diselesaikan sesuai deadline. Untuk order dari personal/mahasiswa dan institusi/organisasi dalam skala kecil, hasil terjemahan akan diproteksi dengan password, dan password diberitahukan setelah pembayaran biaya terjemahan diselesaikan.

Pembayaran dilakukan lewat transfer rekening BNI penerjemah (akan diberikan saat dibutuhkan).

Proyek Penerjemah Online January 30, 2009

Posted by mazdink in Penerjemahan.
Tags: ,
3 comments

Terjemahan yang dipublikasikan

  • 71 modul belajar online kimia, Situs Web Kimia Indonesia, www.chem-is-try.org, Oktober – Desember 2007.
  • Peranan keju dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans (Skripsi), Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin, Mei 2006.
  • General Election and Political Education in Indonesia (Social science journal) from original title Pemilihan Umum dan Pendidikan Politik di Indonesia by A. Gau Kadir (published in Paksi Journal Malaysia, vol. 2 no.10, December 2006)
  • Air, si molekul ajaib (artikel), Situs Web Kimia Indonesia, www.chem-is-try.org, November 2007.
  • Pengaruh perasan daun ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) terhadap mortalitas keong emas (Pomacea canaliculata Lamarck) (proposal penelitian), Jurusan Biologi Universitas Negeri Makassar, Mei 2007.
  • Kompleks Mg(I) yang pertama berhasil dibuat (artikel), Situs Web Kimia Indonesia, www.chem-is-try.org, November 2007.
  • Tinta cerdas (artikel), Situs Web Kimia Indonesia, www.chem-is-try.org, Januari 2008.
  • Cara murah mengkonversi gas alam menjadi bahan bakar (artikel), Situs Web Kimia Indonesia, www.chem-is-try.org, April 2008.
  • Mesin plastik yang digerakkan cahaya (artikel), Situs Web Kimia Indonesia, www.chem-is-try.org, November 2007.

Terdapat ribuan terjemahan lain yang mencakup jurnal-jurnal ilmiah dari berbagai disiplin ilmu, panduan-panduan, dokumen kontrak, artikel, dan buku teks perguruan tinggi, yang digunakan secara pribadi oleh klien. Silahkan lihat di CV untuk lebih lengkapnya.

Prosedur Pengajuan dan Pengambilan Order January 28, 2009

Posted by mazdink in Penerjemahan.
Tags: ,
1 comment so far

Pengajuan Order

Sebelum mengajukan order ke penerjemah, terlebih dahulu anda harus melakukan kontak dengan penerjemah baik melalui telpon, sms, email, fax atau chatting (selengkapnya klik disini). Setelah kontak dengan penerjemah dan dicapai kesepakatan kontrak, barulah order diajukan melalui beberapa cara berikut ini:

Melalui email

Order yang dapat diajukan melalui email adalah order dalam bentuk soft copy dengan ukuran yang dapat dilampirkan di email sebagai attachment. Kirim file yang akan diterjemahkan ke masdin_82@yahoo.com disertai catatan pengantar dari klien dan dengan mencantumkan informasi tentang diri klien dan format hasil terjemahan yang diinginkan.

Melalui fax

Order yang dapat diajukan melalui fax adalah order dalam bentuk hard copy dengan jumlah halaman tidak lebih dari 50 halaman, ditujukan ke no. fax penerjemah (0411) 581312. Hard copy yang jumlahnya lebih dari 50 lembar sebaiknya dikirim lewat pos atau tiki ke alamat penerjemah (alamat lengkap silahkan lihat di kontak).

Melalui server

Anda juga bisa mengajukan order lewat server website. Penerjemah akan mendownload file tersebut dari server menggunakan FTP dengan kode akses yang diberikan.

Pengambilan Hasil Terjemahan

Order yang diajukan klien akan diselesaikan sesuai dengan deadline yang diberikan, atau bisa lebih cepat dari deadline tergantung jumlah order yang ada. Hasil terjemahan dapat diambil melalui beberapa cara berikut ini:

Melalui email

Hasil terjemahan dalam bentuk soft copy dapat dikirimkan ke e-mail klien sebagai attachment dan klien akan mendownload file dari e-mail.

Melalui fax

Hasil terjemahan akan dikirimkan ke klien melalui fax jika klien menginginkan hard copy ketimbang soft copy dari hasil terjemahan dengan jumlah halaman yang tidak lebih dari 20 halaman.

Melalui server

Hasil terjemahan dapat diupload ke server yang telah ditentukan oleh klien menggunakan FTP dengan kode akses yang diberikan.

Contoh terjemahan English-Bahasa Indonesia January 28, 2009

Posted by mazdink in Penerjemahan.
Tags: , ,
4 comments
KEDOKTERAN
Source Target
Anemias are generally classified in one of two ways: either by etiological classification (based on the cause) or by morphologic classification (based on changes in shape and size). Etiological classification is more commonly employed.Alloimmune hemolytic anemia occurs when the antibody of one individual reacts with red blood cells (RBC) of another. Alloimmune hemolytic anemia typically occurs following transfusion of ABO incompatible blood and rhesus disease of the newborn. It also can occur following allogenic transplantation.

The administration of certain drugs can cause transient drug induced anemia. This can occur by three mechanisms: 1) antibody directed against a drug-red cell membrane complex (e.g., penicillin or cephalothin); 2) deposition of complement via drug-protein (antigen)-antibody complex onto the red cell surface (e.g., quinidine or chloropropamide); or 3) an autoimmune hemolytic anemia in which the role of the drug is unknown (e.g., methyl dopa). In each case, the anemia disappears only after the drug is discontinued (however, with methyl dopa, the antibodies may persist for many months).

Anemia umumnya digolongkan menurut salah satu dari dua sistem klasifikasi yakni dengan klasifikasi etiologi (berdasarkan penyebab) atau dengan klasifikasi morfologi (berdasarkan bentuk dan tingkat keparahan). Klasifikasi etiologi lebih umum dipakai.Anemia hemolitik aloimun terjadi apabila antibodi dari seseorang bereaksi dengan sel darah merah orang lain. Anemia hemolitik aloimun lazimnya terjadi setelah transfusi darah ABO tidak serasi dan penyakit resus neonatus. Jenis anemia ini juga bisa terjadi setelah transplantasi alogenik.

Pemberian obat tertentu bisa menyebabkan anemia imbas obat sesaat. Ini bisa terjadi melalui tiga mekanisme: 1) antibodi yang diarahkan untuk kompleks obat-membran sel darah merah (misalnya penisilin atau sefalotin); 2) endapan komplemen pada permukaan sel darah merah melalui kompleks antibodi-(antigen) protein obat (misalnya quinidin atau kloropropamida); atau 3) anemia hemolitik autoimun dimana peranan obat tidak diketahui (seperti metil dopa). Pada masing-masing mekanisme ini, anemia hanya hilang setelah pemakaian obat dihentikan (akan tetapi, dengan metil dopa, antibodi-antibodi yang terlibat bisa bertahan selama beberapa bulan).

KEDOKTERAN GIGI
A 21-year-old female patient presented with a complaint of an asymptomatic gingival swelling. The lesion was located in the alveolar ridge in the mandibular right third molar region. The patient reported the evolution of a lesion over a period of one month. The swelling started following extraction of the right mandibular third molar along with frequent bleeding, especially after meals, but with partial spontaneous healing. Extraorally, the patient presented facial swelling on the right side (Figure 1). Intraorally, a normal and elastic mucosa was observed along with a nodule reaching 4 cm in the largest diameter with a rubber-like consistency extending from the second bicuspid to the retromolar region (Figure 2). Seorang pasien wanita berusia 21 tahun memiliki keluhan pembengkakan gingiva asimptomatik. Lesi terdapat pada rabung alveolar (alveolar ridge) di daerah geraham bungsu kanan mandibula. Pasien melaporkan terjadinya lesi selama periode satu bulan. Pembengkakan ini mulai terjadi setelah pencabutan geraham bungsu bawah diikuti dengan perdarahan yang sering terjadi, khususnya setelah makan, tapi dengan penyembuhan spontan parsial. Pada pemeriksaan ekstraoral, pasien memiliki pembengkakan wajah pada sisi kanan (Gambar 1). Pada pemeriksaan intraoral, sebuah mukosa yang elastis dan normal ditemukan bersama dengan sebuah nodul yang diameternya mencapai 4 cm dengan konsistensi mirip-karet dan membentang mulai dari gigi bikuspid sampai daerah retromolar (Gambar 2).
KIMIA

The hydrocarbons become harder to ignite as the molecules get bigger. This is because the bigger molecules don’t vaporise so easily – the reaction is much better if the oxygen and the hydrocarbon are well mixed as gases. If the liquid isn’t very volatile, only those molecules on the surface can react with the oxygen. Bigger molecules have greater Van der Waals attractions which makes it more difficult for them to break away from their neighbors and turn to a gas. Provided the combustion is complete, all the hydrocarbons will burn with a blue flame. However, combustion tends to be less complete as the number of carbon atoms in the molecules rises. That means that the bigger the hydrocarbon, the more likely you are to get a yellow, smoky flame.

Incomplete combustion (where there isn’t enough oxygen present) can lead to the formation of carbon or carbon monoxide. As a simple way of thinking about it, the hydrogen in the hydrocarbon gets the first chance at the oxygen, and the carbon gets whatever is left over! The presence of glowing carbon particles in a flame turns it yellow, and black carbon is often visible in the smoke. Carbon monoxide is produced as a colorless poisonous gas.

Senyawa hidrokarbon menjadi lebih sulit terbakar apabila molekul-molekulnya semakin besar. Ini karena molekul-molekul yang lebih besar tidak mudah menguap – reaksi akan jauh lebih baik jika oksigen dan hidrokarbon bercampur sebagai gas. Jika senyawa hidrokarbon dalam wujud cair tidak mudah menguap, maka hanya molekul-molekul pada permukaan saja yang bisa bereaksi dengan oksigen. Molekul-molekul yang lebih besar memiliki gaya tarik Van der Waals yang lebih besar sehingga membuatnya lebih sulit untuk terputus dari molekul tetangga dan sulit untuk membentuk gas. Jika pembakaran berlangsung sempurna, semua hidrokarbon akan terbakar dengan nyala biru. Akan tetapi, pembakaran cenderung kurang sempurna apabila jumlah atom karbon dalam molekul meningkat. Ini berarti bahwa semakin besar senyawa hidrokarbon, semakin besar kemungkinan diperoleh nyala kuning yang berasap.

Pembakaran tidak sempurna (yakni jika tidak terdapat cukup oksigen) bisa menyebabkan pembentukan karbon atau karbon monoksida. Penjelasan sederhana untuk reaksi pembakaran ini adalah, hidrogen dalam hidrokarbon mendapatkan kesempatan pertama untuk bereaksi dengan oksigen, dan karbon hanya mendapatkan oksigen yang tersisa. Keberadaan partikel-partikel karbon yang berpijar pada sebuah nyala menyebabkan nyala tersebut berubah menjadi warna kuning, dan karbon hitam sering terlihat dalam asap. Karbon monoksida dihasilkan sebagai sebuah gas beracun yang tidak berwarna.

KESEHATAN
It has long been known that malnutrition undermines economic growth and perpetuates poverty. Yet the international community and most governments in developing countries have failed to tackle malnutrition over the past decades, even though well-tested approaches for doing so exist. The consequences of this failure to act are now evident in the world’s inadequate progress toward the Millennium Development Goals (MDGs) and toward poverty reduction more generally. Persistent malnutrition is contributing not only to widespread failure to meet the first MDG “to halve poverty and hunger” but to meet other goals in maternal and child health, HIV/AIDS, education, and gender equity. The unequivocal choice now is between continuing to fail, as the global community did with HIV/AIDS for more than a decade, or to finally make nutrition central to development so that a wide range of economic and social improvements that depend on nutrition can be realized. Telah lama diketahui bahwa malnutrisi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan melanggengkan kemiskinan. Meski demikian, komunitas internasional dan kebanyakan pemerintah di negara-negara berkembang telah gagal dalam mengatasi masalah malnutrisi selama beberapa puluh tahun terakhir, walaupun tersedia pendekatan-pendekatan yang telah teruji untuk masalah tersebut. Konsekuensi dari kegagalan untuk bertindak ini sekarang terbukti dengan adanya perkembangan dunia yang tidak memadai menuju Sasaran Pembagunan Milenium (MDG) dan menuju ke pengurangan kemiskian pada umumnya. Malnutrisi yang terus menerus terjadi memberikan kontribusi tidak hanya bagi meluasnya kegagalan dalam memenuhi MDG tetapi juga kegagalan dalam memenuhi tujuan-tujuan lain dalam kesehatan ibu dan anak, HIV/AIDS, pendidikan, atau kesamaan jender. Pilihan yang mau tidak mau dihadapi sekarang ini adalah apakah tetap melanjutkan kegagalan, atau menjadikan gizi sebagai sentral bagi pembangunan sehingga pelbagai peningkatan ekonomi dan sosial yang bergantung pada gizi bisa direalisasikan.
EKONOMI

Traditional costing procedures often group indirect, support costs in one pool and then allocate them to products and services based on related production figures. But when economies of scale come into play, this approach tends to attribute too high a cost to high-volume products and services and too low a cost to low-volume ones (Chan 1993).4 ABC more logically attributes indirect costs to the product or service that actually consumes these costs (Cokins 1996).

This approach, states Brimson (1991), enables an organization to “use its resources in the best possible way to achieve its objectives” by also providing insights into the production process for delivering products and services.

Prosedur pembiayaan tradisional seringkali mengelompokkan biaya-biaya dukungan yang tidak langsung dalam satu kelompok dan selanjutnya mengalokasikan biaya tersebut ke produk-produk dan jasa berdasarkan jumlah produksi yang terkait. Tetapi ketika ekonomi skala terlibat, pendekatan ini cenderung mengalokasikan biaya yang terlalu tinggi untuk produk dan jasa bervolume tinggi dan mengalokasikan biaya yang terlalu rendah untuk produk dan jasa yang bervolume rendah (Chan 1993). ABC secara lebih logis mengaitkan biaya-biaya tidak langsung dengan produk atau jasa yang benar-benar memaki biaya-biaya ini (Cokins 1996).

Pendekatan ini, menurut Brimson (1991), memungkinkan sebuah organisasi untuk “menggunakan sumber dayanya dengan cara yang sebaik mungkin dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya” dengan juga menyediakan pengetahuan tentang proses produksi untuk menyalurkan produk dan jasa.

Kamus Online Gratis untuk Lebih 40 Bahasa December 1, 2008

Posted by mazdink in Penerjemahan.
Tags: , , ,
add a comment

Sebuah kamus online dengan kemampuan lebih dar 40 bahasa telah dirilis. Silahkan klik banner berikut untuk menggunakan kamus ini.


Free On-line Dictionaries


Powered by www.Linguist.Co.Nr